KEBERHASILAN PESERTA DIDIK DIMULAI DARI DIRI GURU
Tulisan ini hanyalah sebuah opini yang dikolaborasikan dengan asumsi serta pengalaman yang terjadi dalam kurun waktu menjadi guru. Memang kurang detail dalam pembahasannya karena hanya berupa opini-asumtif.
Pengantar
Banyak di antara guru (tidak semua guru) yang berpikir tentang kekurangan waktu dalam menjalankan tugas. Stop berpikir bahwa tidak mempunyai waktu. Setiap guru diberikan waktu 7-8 jam sehari melaksanakan tugas yang menjadi tugas pokok, yakni merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi serta tugas tambahan lainnya yang melekat pada tugas pokok. 7-8 jam per hari adalah waktu yang sangat cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas guru di sekolah, bila diatur dengan baik. Jika dibandingkan dengan profesi lainnya, guru, apalagi guru ASN sangat dihargai oleh Negara dengan gaji dan berbagai tunjangan. Coba dibanyangkan dengan profesi yang lain (bukan bermaksud merendahkan), mereka kerja banting tulang setengah mati, namun belum tentu mendapatkan gaji sebulan dengan tunjangan-tunjangannya seperti yang didapatkan guru.
Pertanyaan Reflektif
Guru diberikan waktu yang hampir sama menjalankan tugas pokok dan tugas tambahan. Namun dalam pelaksanaannya, banyak yang tugasnya terbengkelai, bahkan tidak sama sekali dikerjakan. Ketika ditanya, mana tugasmu, mana pekerjaanmu? Apakah sudah diselesaikan? Jawabannya belum, beri kesempatan satu minggu lagi, dan seterusnya. Ketika diminta pasti akan mendapatkan jawaban yang sama, belum dikerjakan, belum selesai. Lalu apa saja yang dilakukan setiap hari ketika berada di sekolah? Mengajar? Mendidik? Membimbing? Membina? Melatih? Menyusun perangkat pembelajaran dan lain-lain? Atau hanya sekedar ber-gadget ria menunggu waktu pulang? Atau duduk bergosip ria tentang kejelekan orang lain? Memang benar bahwa kehadiran guru di sekolah untuk mengajar, mendidik, membina, melatih, membimbing. Apakah semua itu dilakukan? Paling-paling mengajar dan mendidik, namun tidak semua dilakukan dalam satu hari. Pertanyaan selanjutnya, Apakah mungkin mengajar akan menghasilkan sebuah keberhasilan tanpa terlebih dahulu merencanakan apa yang diajarkan? Ini hanyalah asumsi bagi segelintir guru yang menganggap benar, jika mengajar tanpa menyusun renncana pembelajaran terlebih dahulu adalah lumrah.
Asumsi ini bermuara pada keteraturan waktu. Pertanyaan-pertanyaan pemantik tersebut terkadang sulit dijawab. Guru (tidak semua guru) selalu mendelay pekerjaanya yang seharusnya menjadi tugas pokok. Apa alasanya? Hanya guru sendiri yang mampu menjawabnya. Guru tidak menyusun RPP, mengajar tanpa RPP, tidak mengajar, tidak mengevaluasi, apalagi melakukan refleksi. Inilah kelemahan-kelemahan yang sering menjadi persoalan yang selalu ada, tanpa solusi.
Dalam fase kekinian terdapat banyak fenomena di mana guru belum bisa mengatur waktu dengan baik dalam melaksanakan tugas. Fenomena ini jika dibiarkan, tanpa pencegahan, maka akan menjadi “penyakit”, bahkan bisa melemahkan kualitas layanan pendidikan di sebuah sekolah.
Tak dapat dipungkiri bahwa guru (tidak semua guru) membuang waktu sia-sia. Membuang waktu sama saja dengan membuang kesempatan dan peluang dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan, apalagi berkenaan dengan keberhasilan anak didik. Tidak jarang, banyak alasan yang dibuat guru untuk meninggalkan tugasnya. Walaupun demikian, bukan berarti hal tersebut tidak dapat diubah dan diperbaiki lagi.
Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Namun, tak ada yang abadi di dunia ini. Yang Abadi hanya perubahan. Terkadang perubahan yang dilakukan mendapat tantangan internal. Ketika perubahan dilakukan, tantangan pun datang menghampiri. Ketika orang tidak mau diubah menuju ke hal yang baik, muncul derpresi atau merasa tertekan dengan pola perubahan tersebut. Hal ini terjadi karena orang sudah terbiasa dengan pola/“habit” lama dan belum bisa menerima perubahan karena sulit keluar dari zona nyaman.
Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas atau dari siapapun. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu “ditekan”, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama, mulailah dari diri sendiri”. Kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nadiem Makarim, bahwa untuk bisa berubah, perlu melatih diri dengan teratur. Atas dasar pertimbangan tersebut, berapa cara di bawah ini coba penulis opsikan untuk diperhatikan oleh kita sebagai guru:
1. Mulai dari Diri
Menjadi guru seharusnya bisa mengatur waktu dengan baik. Jika guru bisa dan tahu mengatur waktunya dengan baik, akan diguguh dan ditiru oleh peserta didik. Jika guru tidak mampu mengatur diri, apalagi mengatur waktu, bagaimana guru bisa mengatur peserta didik?. Jika guru tidak bisa menjadi teladan, apa yang mau diteladani peserta didik?. Karenanya, jika peserta didik disiplin, maka guru terlebih dahulu disiplinkan diri dalam pengaturan waktu. Disiplin itu macam-macam. Disiplin waktu, disiplin merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran dan disiplin dalam menjalankan tugas pokok dan tambahan. Untuk disiplin tidak bisa mulai dari orang lain, tetapi mulai dari diri guru. Jika guru tidak disiplin jangan harap peserta didik bisa disiplin, karena peserta didik selalu mencontohi gurunya. Guru harus membangun kesadaran diri, keluar dari kebiasaan lama dan “kenakan baju baru”, kenakan kebiasaan baru, menjadi roh model generasi penerus dan masyarakat sekitarnya.
Mulai dari diri tidak sulit. Kita tinggal mengenal dan menggali kekurangan dan kelebihan kita selama ini. Kelebihan yang ada dipertahankan, sedangkan kekurangan diperbaiki. Selama ini malas kerja, malas masuk kelas, malas kerja perangkat dan sebagainya, segera ditinggalkan. Jika guru tidak berubah, apa yang bisa harapkan? Janganlah guru jadi beban bagi lembaga dan bangsa ini. Simpel saja, Negara sudah membiayai hidup guru, karenanya bantulah Negara dengan memberikan diri dan potensi yang ada pada diri guru untuk menjadikan anak bangsa lebih baik lagi ke depanya.
2. Menyelesaikan Tugas yang Menjadi Prioritas
Kesulitan guru (tidak semua) ketika menjalankan tugas pokok adalah tidak mengatur waktu dengan baik. Inilah kelemahan dalam menyelesaikan tugas-tugas pokok. Guru sering mengabaikan apa yang menjadi tugas pokok dengan berbagai alasan. Misalnya, hasil survey pada sebuah sekolah terdapat sekitar 20% guru yang menyelesaikan perangkat pembelajaran tepat waktu, sedangkan 80% belum tepat waktu atau dengan alasan menunda. Ini baru dari satu sisi tugas pokok, belum lagi tugas pokok yang lain, misalnya, analisi nilai, remidial dan pengayaan, dll. Di sini dapat diasumsikan, guru (tidak semua guru) lebih banyak membuang waktu untuk mengobrol daripada mengerjakan perangkat pembelajaran. Guru lebih banyak bermain gedget (tidak semua guru) daripada melakukan analisis nilai dan sebagainya. Yang paling penting adalah menyelesaikan hal yang prioritas lebih dahulu. Setelah selesai bisa kemudian mengerjakan hal yang lain. Tentunya guru juga butuh rilex, namun apa artinya rilex jika tugas guru tidak selesai sesuai target? Untuk itu, selesaikan tugas yang menjadi prioritas. Tentunya ini akan menjadi sebuah pola pikir yang memudahkan dalam mengelola sebuah pekerjaan yang menjadi tugas pokok. Apalagi jika punya waktu yang cukup untuk mengerjakan setiap pekerjaan yang menjadi tugas pokok.
3. Katakan “Tidak”
Guru (tidak semua guru) sering menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak penting. Misalnya, mengobrol tentang kekurangan rekan lain, utak atik HP dan sebagainya. Pola seperti ini hanya membuang-buang waktu saja dan tidak bermanfaat. Jika ingin mengobrol, sebaiknya obrolan seputar permasalahan pendidikan yang bisa dicarikan solusinya. Misalnya, kesulitan belajar anak didik yang harus segera dicari jalan keluarnya, bagaimana membuat RPP yang baik dan benar dan sebagainya. Obrolan seperti ini sangat bermanfaat daripada hanya obrolan tentang kekurangan orang lain. Obrolan-obrolan yang kurang bermanfaat, apalagi obrolan yang hanya menceritakan kekurangan rekan kerja sangat tidak bermanfaat. Yang terjadi adalah membuang waktu untuk melakukan kegiatan yang tidak penting. Tentu saja ini akan membuat rugi dan tidak memperoleh apapun. Karenanya, bisa mulai dengan menolak kegiatan yang menyia-nyiakan waktu. Demikian, haruslah berkata pada diri “tidak” lagi membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat terkait mendidik dan pendidikan.
4. Guru: Fokus pada Tugas
Menjadi guru adalah pilihan. Menjadi guru ada konsekuensinya, apalagi guru profesional. 7-8 jam di sekolah adalah waktu yang tidak terlalu lama. Jam kerja itulah kita dihidupkan oleh Negara. Jadilah guru yang fokus dengan tugas pokok yang adalah pilihan. Ketika jam kerja, kerjalah sesuai tugas dengan mengelola waktu dengan baik. Jangan hanya sekedar kerja "pencuri tulang". Istilah guyon dari beberapa teman yang sering dilontarkan ketika kesal dengan rekan sejawat lainnya. Pagi datang, finger print, hilang, siang datang lagi untuk finger print. Atau mengajar satu atau dua jam, kasih anak kerja, guru keluar bermain HP di ruang guru atau ruang lainnya. Artinya, dalam konteks ini, guru tidak fokus pada tugas. Jika bekerja, selalu biasakan untuk fokus dan kerjakan apa yang menjadi tugas guru dengan baik. Sebaiknya hindari godaan untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan yang menjadi tugas pokok, sehingga pekerjaan atau tugas pokok bisa selesai tepat waktu.
5. Pandai Mengatur Waktu
Guru harus mengelola waktu dengan baik. Hal ini terjadi jika guru sudah terbiasa displin waktu. Jika tidak terbiasa, maka akan sangat sulit mengatur waktu. Jika guru terbiasa masuk kelas tepat waktu, maka selanjutnya jika ada kendala dan dia terlambat, maka ia akan maerasa beban. Tetapi ada guru yang sudah terbiasa terlambat masuk dan keluar kelas tidak tepat waktu, maka terlambat sudah menjadi kebiasaan dan tidak merasa beban. Untuk itu, ketepatan mengatur waktu harus menjadi kebiasaan mendisiplinkan diri dengan manajemen waktu yang cerdas. Jangan sampai waktu habis terbuang sia-sia untuk kegiatan yang tidak memberikan manfaat yang maksimal.
6. Menghargai Tugas
Untuk memeroleh tugas atau pekerjaan yang sekarang tidaklah mudah, butuh waktu bertahun-tahun dan penantian yang panjang sampai pada pekerjaan yang sekarang ini. Jangan sia-siakan pekerjaanmu itu. Tiap guru memang memiliki alasan yang berbeda dalam menjalankan tugas. Menjadi guru untuk mendapat uang agar bisa bertahan hidup, ada yang sekadar sebagai batu loncatan sementara, ada pula yang ingin mendapatkan pengalaman demi membangun karier. Tidak jarang guru (tidak semua) merasa terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja selama bertahun-tahun. Daripada mengeluh dan terus tersiksa dengan pikiran yang terasa buntu, apalagi jika bangun pagi sudah terasa tidak bersemangat seperti dulu, berikut tips agar kamu lebih menghargai pekerjaan yang dimiliki.
a. Hargai kenyataan bahwa Guru sebenarnya beruntung menjadi ASN
Kenyataannya, ada jutaan Sarjana Pendidikan yang masih berjuang mencari pekerjaan dan jutaan lainnya sama sekali tidak memiliki sumber pendapatan. Hargai kenyataan bahwa profesi guru yang diimpikan banyak orang dan kamu masih bisa menghidupi diri sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
b. Ambil Sisi Positifnya
Meski terdengar naif, terjebak dari rutinitas tugas, guru harus selalu melihat sisi positif dalam situasi apapun. Jika merasa malas mengajar, malas kerja apa yang menjadi tugas guru, muncul pertanyaan, mengapa harus memilih menjadi guru? Menjadi guru adalah profesi mulia. Jalanilah dengan tulus dan bertanggungjawab. Bahkan pada hal-hal kecil, seperti kesulitan dalam menghadap karakteristik peserta didik yang beragam harus selalu tersenyum dan bahagia. Jadikan peserta didik dan rekan guru lainnya sebagai patner.
c. Memperbanyak Relasi
Jadikan sekolah sebagai lokasi tepat untuk membangun relasi yang bisa berguna di masa depan, bahkan dengan peserta didik sekalipun. Guru menempatkan diri dalam lingkungan orang-orang yang berkualitas juga menantang diri agar terus berkembang. Guru juga bisa menemukan rekan untuk melakukan hobi dan kesenangan lain demi mengisi hari-harimu agar lebih menyenangkan.
d. Hentikan Kebiasaan Lama
Nyatanya, kebiasaan buruk guru, seperti malas mengajar, terlambat, malas buat perangkat pembelajaran dan sebagainya memang banyak memberikan dampak negatif untuk kualitas layanan pendidikan di sekolah. Sebelum terlambat, segera menyadari apa saja yang menjadi kebiasaan buruk dan hilangkan perlahan-lahan. Jika konsisten, maka kebiasaan buruk itu akan berganti dengan kebiasaan baru yang positif.
e. Teruslah Belajar
Dengan terus belajar, potensi diri guru akan diketahui dan bisa dikembangkan. Selain itu, guru bisa juga meningkatkan skill yang sesuai dengan kebutuhan tugas pokok guru saat ini. Belajar tidak perlu mahal, karena saat ini banyak sekali platform pembelajaran online yang bisa digunakan untuk menambah keterampilan serta pengetahuan seorang guru.
f. Temukan Mentor
Agar semakin bersemangat dan tahu bagaimana melakukan pengembangan diri yang benar, seorang guru perlu mencoba untuk menemukan mentor yang tepat. Bisa atasan atau teman sejawat. Tanyakan bagaimana pekerjaan ataupun kemampuan yang kamu punya selama ini dan bagaimana cara untuk mengembangkannya.
g. Mulai Pelajari Hal Baru
Jika guru ingin maju, maka jangan cepat puas dengan skil yang ada. Maka, cobalah untuk mempelajari hal baru.
h. Jangan Takut Gagal
Seorang guru tidak boleh takut gagal. Kegagalan menjadi sebuah resiko dari setiap kegiatan pengembangan diri menjadi yang lebih baik. Jadi, seorang guru jangan pernah takut gagal untuk mengembangkan potensi. Lakukan motivasi diri untuk terus mengingat tujuan yang ingin kita capai demi keberhasilan anak didik dan masa depan pendidikan Indonesia.
Penutup
Demikian, pengembangan diri seorang guru menjadi sebuah proses yang dilakukan untuk membentuk potensi, sikap, perilaku, bakat dan kepribadian. Semuanya akan terwijud jika guru mengatur waktu dengan baik. Tujuannya adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dan bagi guru dalam mengaktualisasi diri sendiri sehingga bisa berkompetisi dan punya kualitas pribadi yang lebih baik dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan Nasional.
SALAM DAN BAHAGIA
Post by: Yulius Bera Tenawahang, S. Fil., M. Pd
(28-02-2023)
(Kepala SMA Negeri 2 Kupang Timur)
Sumber rujukan:
https://calakpendidikan.com/2022/09/30/cara-jitu-sukses-mengatur-waktu/
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital
Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le
Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah
Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas
Pertemuan Cahaya, Kapur, dan Hutan dalam Ruang Segi Empat
Generasi Z lahir di tengah cahaya layar yang tak pernah padam, ibarat sebuah sungai digital yang mengalir deras, penuh warna, dan tak mengenal jeda. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar al
"Analisis Kritis Efektivitas Peningkatan Kompetensi Guru: Paradoks 'Sirkus Pelatihan' dan Degradasi Mutu Pengimbasan"
PendahuluanPeningkatan kompetensi profesional guru merupakan imperatif utama dalam sistem pendidikan. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) seca
Neraca Keseimbangan baru:Antara Berat Gizi Gratis Vs Bobot Jam sekolah, Menuju Titik Ekuilibrium Mutu Siswa (refleksi Kecil dari SMA N.2 Kupang Timur)
Metafora Gizi dan Harapan MutuSejak pertengahan Oktober 2025, bendera harapan berkibar di tiang sekolah kami, diiringi irama sendok beradu. Program MBG (Makan Bergiz
GURU MASA LALU VS SISWA MASA KINI
Ketika melihat judul di atas, menarik karena Guru dan siswa adalah manusia penghuni Zamannya sedangkan masa lalu dan masa kini adalah Zaman dan waktu yang
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK Oleh YULIUS BERA TENAWAHANG (SMA Negeri 2 Kupang Timur) Puji Syukur, saya sebagai Calon G
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP Ketika mendengar nama sosok Ki Hajar Dewantoro, pikiran saya langsung tertuju pada pepatah kuno atau istilah “Ing Ngars
TUGAS GURU: MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MURID
Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan pemantik, “pernahkah guru-guru melakukan refleksi?” Dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewas
TANTANGAN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN (Dilema Etika vs Bujukan Moral)
Pengantar Sebagai pemimpin pendidikan, seorang Kepala Sekolah maupun guru harus menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi s
