MEMAHAMI KEBERAGAMAN PESERTA DIDIK: DIFERENSIASI PEMBELAJARAN
“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”
(Ki Hajar Dewantara)
Pendahuluan
Setiap guru tentu tahu dan mungkin pernah berhubungan dengan seorang dokter. Dalam bekerja, ketika seorang dokter membantu pasiennya, maka yang akan dokter lakukan adalah mendiagnosa. Diagnosa yang lakukan dokter tentunya didasarkan pada pengetahuan dan ilmu sains kedokteran yang telah dipelajarinya. Namun, dokter tidak dapat bekerja berdasarkan diagnosis saja. Dokter juga perlu membangun rasa percaya pasiennya agar si pasien mau mengikuti apa yang ia sarankan. Tanpa rasa percaya dari si pasien, apapun yang disarankan dokter mungkin tidak akan dilakukan oleh si pasien. Nah, agar dapat tercipta rasa saling percaya, maka dokter yang baik akan membangun hubungan komunikasi yang baik, jujur dan terbuka dengan pasiennya. Dokter hanya akan meresepkan obat setelah ia melakukan diagnosa.
Sama seperti dokter, seorang guru juga akan berada dalam situasi yang mungkin serupa. Saat guru mengajar, guru akan mendasarkan praktiknya pada pengetahuan dan keterampilan yang ia miliki yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diampu dan ilmu pedagogi. Namun demikian, guru juga harus membangun komunikasi dan kepercayaan peserta didiknya, agar peserta didiknya mengikuti instruksi dan saran yang guru berikan. Tanpa membangun rasa percaya dan komunikasi yang baik, tidak akan terjadi hubungan positif antara peserta didik dan guru. Hal ini akan sulit bagi guru untuk memotivasi peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam praktik pembelajaran guru perlu berkomunikasi dan membangun hubungan saling percaya dengan peserta didiknya untuk mengetahui perasaan, latarbelakang, keinginan, minat dari peserta didik. Semua informasi tersebut akan digunakan untuk merancang pembelajaran yang sesuai bagi peserta didik. Harapannya peserta didik merespon dengan baik pembelajaran yang telah dirancangnya. Proses mengidentifikasi kebutuhan peserta didik inilah yang terkadang jarang, bahkan tidak pernah dilakukan oleh guru. Padahal, sama seperti seorang dokter, guru tidak bisa memberikan resp obat tanpa diagnosis. Demikian pula seharusnya seorang guru, tanpa mengetahui kebutuhan belajar peserta didik, akan sulit memberikan pengalaman belajar yang tepat.
Pembelajaran Berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat guru dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Keputusan yang dibuat terkait dengan pembelajaran yang memiliki tujuan yang jelas. Melalui pembelajaran berdiferensiasi, setiap peserta didik difasilitasi untuk mengembangkan potensi terbaiknya. Pembelajaran berdiferensiasi memberi keleluasaan pada peserta didik meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat dan profil belajar peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi berpihak pada peserta didik yang dirancang berakar pada pemenuhan kebutuhan belajarnya.
Strategi pembelajaran berdiferensiasi terdiri dari tiga bagian, yaitu: diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten berhubungan dengan materi yang diajarkan pada peserta didk dengan mempertimbangkan kebutuhan belajarnya, baik dalam aspek kesiapan belajar, aspek minat peserta didik dan aspek profil belajar atau kombinasi dari ketiganya. Diferensiasi proses menekankan pemahaman guru tentang proses belajar peserta didik, apakah secara berkelompok atau mandiri. Guru menetapkan jumlah bantuan yang akan diberikan pada peserta didik. Siapa saja peserta didik yang membutuhkan bantuan dan peserta didik yang membutuhkan pertanyaan pemandu yang selanjutnya dapat belajar secara mandiri. Sedangkan, diferensiasi produk merupakan keberagaman dalam hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan peserta didik kepada guru, bisa berbentuk karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram dan sebagainya.
Pembelajaran berkonteks diferensiasi, di mana guru secara spesifik wajib melakukan identifikasi kebutuhan belajar peserta didiknya sebelum melaksanakan kontrak pembelajaran. Tujuannya agar dapat diketahui harapan dan keinginan peserta didik terhadap materi/bahan ajar yang akan diajarkan, metode yang akan digunakan serta penilaian yang akan dilakukan. Untuk itu guru perlu memahami keberagaman peserta didik.
Memahami keberangaman Peserta didik
Di sini, guru diharapkan memiliki pemahaman yang berkembang secara terus-menerus tentang kemajuan peserta didik, agar bisa merencanakan pembelajaran sesuai dengan kemajuan tersebut. Guru diharapkan dapat mengetahui dimana posisi peserta didiknya saat mereka akan belajar dan mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dalam pembelajaran guru seharusnya memahami keberangaman peserta didik. Keberagaman peserta didik mungkin dapat berupa:
- peserta didik yang berasal dari keluarga kurang mampu yang tidak dapat menerima pembelajaran dengan baik;
- peserta didik yang memiliki kesulitan memahami bahasa yang digunakan di kelas, karena baru pindah dari daerah lain;
- peserta didik yang bosan karena telah menguasai keterampilan yang diajarkan, sehingga pembelajaran tidak menantang lagi untuknya;
- peserta didik yang saat ini sedang berjuang keras untuk mencoba memahami apa yang diajarkan, namun karena adanya kesenjangan yang terlalu jauh antara apa yang dilakukan dengan apa yang sedang dipelajari, akhirnya ia tidak bisa membuat koneksi;
- peserta didik yang hasil-hasil kerjanya tampak baik, namun di sisi lain memiliki masalah sosial-emosional;
- peserta didik yang memiliki minat yang besar terhadap bidang tertentu;
- peserta didik yang memiliki kesulitan-kesulitan dalam belajar; dan sebagainya.
Layanan Kebutuhan Peserta didik
Melihat betapa luas keberagaman peserta didik di atas, sebagai guru, perlu berpikir tentang caranya yang dapat melayanan pendidikan yang memungkinkan semua peserta didik mempunyai kesempatan dan pilihan untuk mengakses materi yang diajarkan secara efektif sesuai dengan kebutuhannya. Bahwa tugas pendidik adalah melayani peserta didik dengan segala keberagaman serta menyediakan lingkungan dan pengalaman belajar terbaik. Demikian guru juga harus meyakini bahwa:
- semua peserta didik bisa berhasil dan sukses dalam pembelajarannya.
- bersikap adil itu bukan berarti menyamaratakan perlakuan kepada semua peserta didik.
- setiap peserta didik memiliki pola belajarnya sendiri yang unik.
- praktik-praktik pembelajaran perlu ditelaah efektifitasnya lewat bukti-bukti yang diambil dari pengalaman demi pengalaman.
- guru adalah kunci keberhasilan pengembangan program pembelajaran peserta didik di kelasnya.
- guru membutuhkan dukungan dari komunitas yang lebih besar untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung semua siswa.
Learning Gap
Fakta bahwa peserta didik memiliki karakteristik yang beragam, dengan keunikan, kekuatan dan kebutuhan belajar yang berbeda, tentunya perlu direspon dengan tepat. Jika tidak, maka akan terjadi kesenjangan belajar (learning gap), di mana capaian pembelajaran tidak akan terwujud dan tidak sesuai dengan potensi peserta didik tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk merespon karakteristik peserta didik yang beragam ini adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi yang kurang lebihnya telah dijelaskan di atas.
Penilaian dalam Pembelajaran Berdiferensiasi
Baik guru maupun dokter sebenarnya sama-sama melakukan asesmen. Lewat proses asesmen ini, Dokter akan menghasilkan diagnosa tentang pasiennya, sedangkan guru akan menemukan kebutuhan belajar peserta didiknya. Guru juga perlu berkomunikasi dan membangun hubungan saling percaya dengan peserta didiknya untuk mengetahui perasaan, latar belakang, keinginan, minat peserta didiknya. Semua informasi tersebut digunakan guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan harapan peserta didik, sehingga akan merespon dengan baik pembelajaran yang telah dirancangnya. Proses mengidentifikasi kebutuhan peserta didik inilah yang terkadang tidak dilakukan guru. Padahal, sama seperti seorang dokter, guru tidak bisa memberikan pelajaran dengan baik tanpa diagnosa.
Dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi, proses penilaian memegang peranan sangat penting. Guru diharapkan memiliki pemahaman yang berkembang secara terus menerus tentang kemajuan peserta didiknya. Guru harus mengetahui keadaan peserta didik yang berbeda-beda untuk setiap mata pelajaran, setiap materi dan bahkan untuk setiap waktu. Hal ini terjadi karena kondisi psikologis dan kemampuan peserta didik mungkin saja berbeda dari waktu ke waktu dan dari hari ke hari. Untuk itu, penilaian akan berfungsi seperti sebuah kompas yang mengarahkan dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi.
Tomlinson & Moon (2013: 18) mengatakan bahwa penilaian adalah proses mengumpulkan, mensintesis, dan menafsirkan informasi di kelas untuk tujuan membantu pengambilan keputusan guru. Ini mencakup berbagai informasi yang membantu guru untuk memahami peserta didik, memantau proses belajar mengajar, dan membangun komunitas kelas yang efektif. Di dalam kelas, kita dapat memandang penilaian dalam tiga perspektif:
- Assessment for learning: Penilaian yang dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan proses belajar mengajar. Berfungsi sebagai penilaian formatif. Sering disebut sebagai penilaian yang berkelanjutan (on going assessment)
- Assessment of learning; Penilaian yang dilaksanakan setelah proses pembelajaran selesai. Berfungsi sebagai penilaian sumatif
- Assessment as learning; Penilaian sebagai proses belajar dan melibatkan peserta didik-peserta didik secara aktif dalam kegiatan penilaian tersebut. Penilaian ini juga dapat berfungsi sebagai penilaian formatif.
Dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi, penilaian formatif memegang peranan sangat penting. Mengapa? Berbeda dengan penilaian sumatif yang biasanya dilakukan setelah sebuah Kompetensi Dasar (KD) atau proses pembelajaran selesai sehingga hasilnya digunakan untuk membuat keputusan tentang peserta didik. Misalnya untuk melakukan remidial dan pengayaan, mengevaluasi proses pembelajaran serta menilai keberhasilan guru dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, penilaian formatif dilakukan saat proses pembelajaran masih berlangsung.
Penilaian formatif ini bersifat memonitor proses pembelajaran dan dilakukan secara berkelanjutan serta konsisten, sehingga akan membantu guru untuk memantau pengetahuan, pemahaman dan keterampilan peserta didik yang berkembang terkait dengan topik atau materi yang sedang dipelajari. Hasil dari penilaian ini akan menjadi sumber untuk mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar peserta didik. Lewat proses ini, guru dapat mengetahui keberhasilan atau gagal dalam proses pembelajaran dan memaksimalkan peluang bagi tercapainya pertumbuhan dan kesuksesan peserta didik dalam materi pembelajaran tersebut.
Lalu seperti apa dan bagaimana melakukan penilaian formatif? Karena sifatnya memonitor pembelajaran, maka penilaian formatif ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi dan tidak hanya dapat dilakukan secara tertulis. Penilaian ini dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan setiap hari, misalnya lewat mengamati, menanya, merefleksi, berdiskusi (baik dengan teman sebaya maupun guru) dan sebagainya.
Berikut ini disajikan beberapa contoh strategi penilaian formatif, selain yang mungkin telah sering dilakukan guru dalam bentuk tes tertulis:
- Tiket Keluar. Guru memberikan pertanyaan yang diajukan kepada semua peserta didik sebelum kelas berakhir. Peserta didik menulis jawaban mereka pada kartu atau selembar kertas dan menyerahkannya saat mereka keluar kelas. Teknik penilaian formatif ini melibatkan semua peserta didik dan memberikan bukti yang sangat penting tentang pembelajaran saat itu bagi guru.
- Tiket Masuk. Guru juga bisa memberikan sebuah pertanyaan kepada semua peserta didik sebelum pelajaran dimulai. Jawaban peserta didik dapat digunakan untuk menilai pemahaman awal peserta didik terkait dengan materi yang akan didiskusikan atau sebagai ringkasan pemahaman peserta didik terhadap materi hari sebelumnya.
- Berbagi 30 Detik. Dengan strategi ini, peserta didik secara bergiliran berbagi apa yang telah ia pelajari dalam pelajaran selama 30 detik. Target yang Anda cari dalam kegiatan ini adalah bagaimana pemahaman peserta didik dikaitkan dengan kriteria keberhasilan yang diharapkan. Dapat dijadikan sebagai rutinitas di akhir pelajaran sehingga semua peserta didik memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, berbagi wawasan, dan mengklarifikasi apa yang dipelajari.
- Nama dalam toples. Guru bisa meminta peserta didik menulis nama mereka di selembar potongan kertas dan kemudian memasukkannya dalam toples. Guru kemudian bisa mengajukan sebuah pertanyaan tentang konsep kunci yang sedang dipelajari, kemudian secara random mengambil sebuah potongan kertas di toples dan meminta beberapa peserta didik yang namanya tertulis di potongan kertas tersebut menjawab pertanyaan secara bergantian.
- Di akhir pembelajaran. Strategi ini memberikan peserta didik cara untuk merangkum atau bahkan mempertanyakan apa yang baru saja mereka pelajari. Tiga petunjuk dapat disediakan bagi peserta didik untuk menanggapi yaitu: tiga hal yang tidak peserta didik ketahui sebelumnya, dua hal yang mengejutkan peserta didik tentang topik tersebut, satu hal yang ingin peserta didik mulai lakukan dengan apa yang telah dipelajari.
- Apapun bentuk refleksi yang dilakukan, refleksi dapat menjadi alat penilaian formatif yang sangat berguna bagi guru untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik dan apa yang masih menjadi kebingungan mereka.
- Pojok pemahaman. Minta peserta didik pergi ke pojok-pojok kelas sesuai dengan pemahaman mereka. Jika mereka tidak memahami topik yang sedang dibahas, mereka dapat pergi ke salah satu sudut dengan peserta didik yang memiliki tingkat pemahaman yang sama. Sementara jika sudah memahami, mereka dapat pergi ke sudut yang lain. Ini dapat menjadi informasi buat guru. Misalnya jika guru ingin memasangkan peserta didik yang “sudah mengerti” dengan peserta didik yang kesulitan dan meminta peserta didik berkolaborasi untuk memahami materi yang menantang.
- Strategi lima jari. Guru minta peserta didik mendeskripsikan pemahaman mereka terkait topik yang diajarkan dengan menggunakan lima jari. Lima jika mereka sudah paham sekali, satu jika mereka tidak paham sama sekali. Cara ini cukup cepat dan mudah untuk mengetahui gambaran umum pemahaman peserta didik. Jika guru ingin mengetahui secara lebih spesifik, tentu saja guru perlu menggali lebih dalam dari sumber-sumber lainnya.
Masih banyak lagi strategi penilaian formatif yang dapat digunakan oleh guru, tanpa harus selalu membuat penilaian tertulis. Penilaian secara tertulis tentu saja juga masih akan diperlukan, namun guru dapat memvariasikannya dengan strategi-strategi penilaian yang lain juga. Mendengarkan dengan saksama saat peserta didik berdiskusi atau bertanya, memperhatikan hasil pekerjaan tertulis mereka, juga dapat menjadi cara yang sangat berguna untuk mengetahui kebutuhan belajar peserta didik. Pada intinya, kemampuan menilai dan menganalisis hasil penilaian ini akan menjadi keterampilan yang sangat penting bagi guru, jika guru ingin dapat mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi dengan sukses.
Kaitan Pembelajaran & Penilaian Berdiferensiasi dengan Standar Nasional Pendidikan
Di dalam Standar Penilaian, disebutkan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi proses, kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Dari deskripsi tentang tujuan ini, dapat kita lihat benang merah antara pembelajaran berdiferensiasi dengan upaya pemenuhan Standar Penilaian ini. Mengapa? Karena di dalam konsep pembelajaran berdiferensiasi, proses penilaian memiliki peranan yang sangat penting.
Kemampuan guru yang baik dalam melakukan penilaian menggunakan berbagai strategi serta menganalisis hasilnya, akan membantu guru untuk dengan tepat menyesuaikan strategi pembelajaran, dukungan yang harus ia berikan kepada peserta didik-peserta didiknya, serta konten seperti apa yang harus disampaikan. Semua penyesuaian terkait pembelajaran yang dibuat oleh guru tersebut akan bergantung pada data hasil penilaian yang dilakukan oleh guru.
Kaitan Pembelajaran & Penilaian Berdiferensiasi dengan Standar Kompetensi Lulusan
Di dalam Standar Kompetensi Lulusan dijelaskan mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik setelah menyelesaikan masa belajarnya di jenjang pendidikan tertentu. Kompetensi lulusan ini merupakan profil dari kualifikasi lulusan yang diharapkan terwujud dalam diri peserta didik dan merupakan ejawantah dari apa yang diharapkan dalam tujuan pendidikan nasional. Untuk dapat mewujudkan profil kualifikasi lulusan seperti yang dijabarkan dalam Standar Kompetensi Lulusan tersebut, maka diperlukan suatu upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik dengan semaksimal mungkin.
Pembelajaran berdiferensiasi akan memungkinkan guru memaksimalkan potensi peserta didik dengan meminimalisir kesenjangan belajar (learning gap) melalui proses identifikasi kebutuhan belajar peserta didik yang tepat. Lewat pembelajaran berdiferensiasi, tidak hanya peserta didik berkembang potensinya secara maksimal, namun proses pembelajaran juga akan lebih memberikan banyak ruang bagi peserta didik untuk membuat dan menentukan pilihan dan memberikan suara, sehingga proses belajar akan menjadi lebih menyenangkan.
SALAM LITERASI
SALAM MERDEKA BELAJAR
Post by: Yulius Bera Tenawahang, S. Fil., M. Pd
Sumber Rujukan:
- Beberapa contoh strategi disini diambil dari artikel yang berjudul “27 easy formative assessment strategies for gathering evidence of student learning” yang dapat diakses melalui tautan berikut ini https://www.nwea.org/blog/2019/27- easy-formative-assessment-strategies-for-gathering-evidence-of-studentlearning/
- https://lms25-gp.simpkb.id/mod/forum/view.php?id=218083
- https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak/catatan-gp/merdeka-belajar-dan-pembelajaran-berdiferensiasi-differentiated-instructions/
- Sumber foto https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhv_op4gKulTX9bXWfqHbKEsSFTg3g5OF9S5m4HfVN6gIy4sBZ0K2WR9zAUVz1dZZZcvZg_YgP6LzTjlkNMJMHQWck2dGVpEjCnyK5A9OiL0T0OGKRs9eDxC9PPS-5ziGGGA2ayNhyF1Q-rdTQmvQD2Dcr39mUmiFZiReftKfMk9ee99e3iGq-TOfw0/w320-h180/Profil%20Pelajar%20Pancasila%20Kurikulum%20Merdeka.jpg
Komentar
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital
Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le
Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah
Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas
Pertemuan Cahaya, Kapur, dan Hutan dalam Ruang Segi Empat
Generasi Z lahir di tengah cahaya layar yang tak pernah padam, ibarat sebuah sungai digital yang mengalir deras, penuh warna, dan tak mengenal jeda. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar al
"Analisis Kritis Efektivitas Peningkatan Kompetensi Guru: Paradoks 'Sirkus Pelatihan' dan Degradasi Mutu Pengimbasan"
PendahuluanPeningkatan kompetensi profesional guru merupakan imperatif utama dalam sistem pendidikan. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) seca
Neraca Keseimbangan baru:Antara Berat Gizi Gratis Vs Bobot Jam sekolah, Menuju Titik Ekuilibrium Mutu Siswa (refleksi Kecil dari SMA N.2 Kupang Timur)
Metafora Gizi dan Harapan MutuSejak pertengahan Oktober 2025, bendera harapan berkibar di tiang sekolah kami, diiringi irama sendok beradu. Program MBG (Makan Bergiz
GURU MASA LALU VS SISWA MASA KINI
Ketika melihat judul di atas, menarik karena Guru dan siswa adalah manusia penghuni Zamannya sedangkan masa lalu dan masa kini adalah Zaman dan waktu yang
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK Oleh YULIUS BERA TENAWAHANG (SMA Negeri 2 Kupang Timur) Puji Syukur, saya sebagai Calon G
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP Ketika mendengar nama sosok Ki Hajar Dewantoro, pikiran saya langsung tertuju pada pepatah kuno atau istilah “Ing Ngars
TUGAS GURU: MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MURID
Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan pemantik, “pernahkah guru-guru melakukan refleksi?” Dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewas
TANTANGAN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN (Dilema Etika vs Bujukan Moral)
Pengantar Sebagai pemimpin pendidikan, seorang Kepala Sekolah maupun guru harus menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi s

Bagus dan sangat terampil dan juga bermanfaat sekali materi in