• SMA NEGERI 2 KUPANG TIMUR
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

MENINGKATKAN KECERDASAN  MORAL   (Solusi Dekadensi Moral Peserta didik)

    Para peserta didik yang kini menduduki bangku sekolah khusunya, SMA/SMK adalah insan-insan yang sedang mengalami masa remaja yang kaya warna. Mereka sedang berusaha mencari dan menemukan identitas diri. Dalam usaha yang penting ini, peserta didik perlu didampingi dengan baik untuk mengenal baik-buruk, benar-salah dan menerima diri dan orang lain secara tepat sehingga mereka tidak jatuh ke dalam tindakan amoral.

    Sesuai perkembangan fisio-psikologisnya anak dalam mencari identitas diri, mereka mengalami banyak perubahan, ketidakpastian dan idealisme tinggi yang menyebabkan krisis identitas yang kerap mempengaruhi tingkah hidupnya sendiri. Dalam pencarian identitas diri ini, peserta didik sering tidak mampu membedakan tindakan moral, mana yang benar, mana yang salah.

    Oleh karena itu, mencerdaskan moral peserta didik di tengah dekadensi moral sangat diperlukan. Menurut Bertens (1996) kecerdasan moral merupakan kemampuan seseorang dalam memahami; (1). prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk; (2). kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah; dan (3). gambaran tentang tingkah laku yang baik. Lebih lanjut Poerwadarminta (1985) mengatakan bahwa kecerdasan moral diartikan sebagai kemampuan manusia dalam membedakan baik dan buruk, perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban dan sebagainya. Cerdas secara moral berarti peserta didik mampu membedakan segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari.

    Berdasarkan pengalaman penulis sebagai guru pada SMA Negeri 2 Kupang Timur, selama kurang lebih 20 tahun, bahwa peserta didik yang kebanyakan berasal dari remaja yang kehilangan kontrol diri akibat kebablasan dalam penggunaan media dan teknologi sering terjerumus dalam tindakan amoral. Seperti yang dilansir dari Okenews, https://news.okezone.com/read/2013/12/27/560/918441/perilaku-amoral-siswa-turunkan-mutu-pendidikan, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Dr. Sulistiyo, M. Pd. memaparkan, belum lama ini para pelajar SMP membuat video mesum di kelas ketika saatnya salat Jumat. Peristiwa lainnya, beberapa pelajar menyiramkan air keras ke dalam bus untuk mencelakai seseorang atau beberapa orang yang tak disukainya atau dianggap musuhnya. Kasus lainnya lagi, sekelompok pelajar membajak bus. Oleh sekolah, para pelaku pembajakan bus itu langsung diberhentikan. "Kasus-kasus tersebut adalah perilaku nyata yang menyangkut moralitas para pelajar Indonesia," ujar Sulis saat konferensi pers Refleksi Akhir Tahun Isu Pendidikan di Kantor PB PGRI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (27/12/2013).

    Bukan hanya itu, kasus yang sederhana terbukti dari kasus-kasus amoral, seperti; menyontek, performa akademis yang buruk, membolos, masalah disiplin, perkelahian antar kelas, perkelahian peserta didik serta fenomena kriminalitas sering menimbulkan keresahan. Untuk mengatasi masalah ini guru perlu meningkatkan kecerdasan, bukan saja kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan moral. Anak dididik untuk mampu membedakan tindakan baik dan buruk, benar dan salah serta mampu menghayati nilai-nilai moral dalam kehidupan.

    Kecerdasan moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang salah. Dengan demikian cerdas secara moral merupakan kendali dalam bertingkah laku (Suprihatininggrum, 2012). Dalam pembelajaran penekanan tidak hanya pada kongitif semata, melainkan juga memperhatikan kemampuan sikap yang adalah representasi pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai moral. Untuk mengembangkan kecerdasan atau kemampuan moral peserta didik dilakukan dengan metode sebagai berikut;

     Pertama, inculcation approach (pendekatan penanaman nilai) dimana nilai ditanamkan kepada peserta didik oleh guru melalui keteladan, melalui penguatan positif, simulasi dan bermain peran. Peserta didik diminta menerima dan mengenal nilai serta mengimpelementasikan dalam perilaku keseharian; Kedua, cognitive moral develompment (pendekatan perkembangan moral kognitif). Melalui pendekatan ini, guru mengenal tingkatan moral peserta didik baik dalam pemikiran maupun dalam tindakan. Metode yang terapkan adalah dilema moral, di mana peserta didik diperhadapkan pada dua pilihan dilematis dan peserta didik diminta untuk mendikusikan, mana yang akan diambil.

    Ketiga, value analysis approach (pendekatan analisis nilai). Metode yang digunakan dalam pendekatan ini antara lain diskusi terarah yang menuntut argumentasi, penguasaan bukti, penegasan prinsip, analisis kasus, debat dan penelitian. Pendekatan ini menuntut peserta didik menggunakan kemampuan berpikir logis ilmiah dalam menganalisis masalah sosial dan guru mengarahkan peserta didik dalam diskusi. Keempat, value clarifikaction approach (pendekatan klarifikasi nilai). Metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah bermain peran, simulasi, analisis mendalam tentang nilai-nilai sendiri, kegiatan di luar kelas dan diskusi kelompok. Melalui pendekatan ini diharapkan tumbuh kesadaran moral peserta didik untuk mengidentifikasi nilai-nilai kepribadian dan orang lain. Kelima, action learning approach (pendekatan pembelajaran berbuat), metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah analisis dan klarifikasi nilai, proyek, praktik hidup bermasyarakat dan berorganisasi. Pendekatan ini bertujuan menumbuhkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan sosial serta mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makluk sosial.

    Hasil observasi penulis menemukan bahwa dengan metode tersebut, guru dapat mengatasi rendahnya moralitas peserta didik dan mereka mampu menemukan serta menghayati banyak nilai yang berguna bagi kehidupan. Nilai-nilai itu, seperti: Pertama, Nilai kejujuran; supaya peserta didik hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Orang jujur selalu benar, ia takut berbuat kesalahan; Kedua, Nilai kedisiplinan; supaya peserta didik tahu menghargai waktu dan efisien dalam belajar, tidak boros dalam pengunaan uang pemberian orang tua dan sebagainya; Ketiga, nilai kerohanian; supaya terbentuk sikap peserta didik yang takut akan Allah dan rajin berdoa;

    Keempat, nilai kebersamaan; supaya tertanam dalam diri peserta didik sikap persaudaraan dan solidaritas dengan orang lain. Peserta didik mulai dibiasakan merasakan kehidupan orang lain; Kelima, nilai tanggung jawab; supaya peserta didik dapat menghayati tugas dan berani menghadapi tantangan dan kesulitan hidup serta mampu menjadi tulang punggung keluarga.

      Di sini, guru dituntut mempunyai andil dengan menjadi roh model, menjadi contoh, teladan yang tindakan moralnya dapat ditiru oleh peserta didik. 

     Akhirnya, peserta didik yang cerdas secara moral sangat membantu sekolah, keluarga, masyarakat dan bangsa dalam mengentaskan amoralitas kehidupan bangsa. Selain itu pula peserta didik yang cerdas moralnya mampu membedakan yang baik dan benar serta mampu menghayati nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehingga dapat mengurangi kriminalitas bangsa ini.

 

Penulis: Yulius Bera Tenawahang, S. Fil., M. Pd

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Karakter: Harta Tak Ternilai di Era Digital

Di era digital ini, kita disuguhi dengan berbagai fenomena yang membuat kita terkejut dan khawatir. Siswa yang memukul guru, orang tua yang mengkriminalisasi guru, dan anak-anak yang le

22/12/2025 07:26 - Oleh Hen Jami - Dilihat 80 kali
Di Antara Ketegasan dan Ketakutan: Dilema Pendidikan Karakter di Sekolah

Dalam sistem pendidikan modern, guru tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai materi akademik. Guru juga diposisikan sebagai pendidik karakter, teladan moral, serta figur otoritas

17/12/2025 20:36 - Oleh Hen Jami - Dilihat 82 kali
Pertemuan Cahaya, Kapur, dan Hutan dalam Ruang Segi Empat

Generasi Z lahir di tengah cahaya layar yang tak pernah padam, ibarat sebuah sungai digital yang mengalir deras, penuh warna, dan tak mengenal jeda. Bagi mereka, ponsel bukan sekadar al

17/12/2025 19:41 - Oleh Hen Jami - Dilihat 77 kali
"Analisis Kritis Efektivitas Peningkatan Kompetensi Guru: Paradoks 'Sirkus Pelatihan' dan Degradasi Mutu Pengimbasan"

     PendahuluanPeningkatan kompetensi profesional guru merupakan imperatif utama dalam sistem pendidikan. Pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) seca

12/11/2025 20:32 - Oleh Hen Jami - Dilihat 157 kali
Neraca Keseimbangan baru:Antara Berat Gizi Gratis Vs Bobot Jam sekolah, Menuju Titik Ekuilibrium Mutu Siswa (refleksi Kecil dari SMA N.2 Kupang Timur)

     Metafora Gizi dan Harapan MutuSejak pertengahan Oktober 2025, bendera harapan berkibar di tiang sekolah kami, diiringi irama sendok beradu. Program MBG (Makan Bergiz

12/11/2025 20:06 - Oleh Hen Jami - Dilihat 141 kali
GURU MASA LALU VS SISWA MASA KINI

 Ketika melihat judul di atas, menarik karena  Guru dan siswa adalah manusia penghuni Zamannya sedangkan masa lalu dan masa kini adalah  Zaman  dan waktu  yang

10/03/2024 22:25 - Oleh Hen Jami - Dilihat 2191 kali
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK Oleh YULIUS BERA TENAWAHANG (SMA Negeri 2 Kupang Timur)          Puji Syukur, saya sebagai Calon G

21/09/2023 10:42 - Oleh Administrator - Dilihat 598 kali
KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP

KONEKSI ANTAR MATERI-REFLEKSI DAN KESIMPULAN MODUL 1.1 PGP Ketika mendengar nama sosok Ki Hajar Dewantoro, pikiran saya langsung tertuju pada pepatah kuno atau istilah “Ing Ngars

21/08/2023 11:02 - Oleh Administrator - Dilihat 307 kali
TUGAS GURU: MEWUJUDKAN KEPEMIMPINAN MURID

   Mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan pemantik, “pernahkah guru-guru melakukan refleksi?” Dan kemudian menyadari bahwa terkadang, guru atau orang dewas

11/06/2023 23:17 - Oleh Administrator - Dilihat 2311 kali
TANTANGAN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN (Dilema Etika  vs  Bujukan Moral)

  Pengantar   Sebagai pemimpin pendidikan, seorang Kepala Sekolah maupun guru harus menjadi pemimpin yang disukai, dipercaya, mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi s

01/06/2023 13:36 - Oleh Administrator - Dilihat 2731 kali