JENGGOT (Humor Kecil Pengantar Pertemuan)
Tadi pagi saya masuk di kelas xi ipa 2.
Saya mengajar pertama di kelas itu karena teman saya ibu Adriana Luruk Bauk, S.Pd “bongkar muatan” hahha. Melahirkan maksudnya.
Selamat pagi anak-anak saya ucapkan sebagaimana biasanya. Mereka juga ucapkan selamat pagi pak…
Tapi saya amati mereka… “diam dan tidak merdeka” karena mereka takut saya, mungkin karena saya biasa galak dengan anak nakal kayaknya..hhahah.
Saya buka masker corona yang akhir-akhir ini biasa kita pakai hanya karena antara terpaksa dan kesadaran ni..,lalu saya bilang begini…
Ijin ya saya buka masker, supaya kamu lihat jenggot saya sebagai tanda bahwa saya laki-laki sejati (dengan raut muka tegas dan mata menyala). Mereka tertawa satu kelas. Saya lanjut cerita bahwa istri saya dan orang-orang dekat, menyuruh saya cukur jenggot sudah, tapi saya tidak mau karena alasan, saya ni mengajar anak SMA yang umurnya remaja. Trus apa hubungana nya dengan jenggot mu…haha. Anak remaja itu mereka sedang jatuh cinta, bangun cinta, putus cinta, dan sambung cinta. Kalau mereka sedang putus cinta lalu hilang harapan, jangan pergi liliba lalu lompat turun, atau ambil racun serangga lalu minum atau gantung diri di pohon tomat, jangan!!! Cukup kamu liat jenggot saya yang ke bawah tidak punya akar dan keatas terlanjur tidak punya pegangan, tapi Tuhan membuat dia indah dan terpelihara. Kamu juga begitu, Tuhan mencintaimu maka teruslah mencintai….
Mereka tepuk tangan tanda setuju…jadi saya bilang kayaknya lagi broken ni e..mereka tertawa hahahah. Saat mengajar selama 4 jam, tidak ada yang ijin kami senang sepanjang pelajaran..kreeenn-kreeeen XI IPA 2, mereka terbaik…..
NAIBONAT, 23/05/2022
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
DATA STATISTIK
Teman: “Kenapa kamu takut sama statistika?” Aku: “Karena di situ perasaan cuma dianggap ‘data sampel’.”
matematika Diskon
Guru: “Apa hasil dari 100.000× 3?” Murid: “Tergantung, Bu. Lagi diskon atau nggak?”
"Perasaan"
Teman: “Kenapa kamu suka matematika?” Aku: “Karena kalau salah, bisa dihitung lagi. Nggak kayak perasaan.”
Alajabar
Guru: “Kenapa kamu takut sama aljabar?” Murid: “Soalnya X terus hilang… kayak dia yang pergi tanpa kabar.”
Matematika
Guru Matematika: “Kenapa kamu nggak pernah takut sama soal pecahan?” Murid: “Karena saya sudah terbiasa… hidup saya juga sudah terbagi-bagi antara tugas, utang
Matematika
Guru Matematika: “Kenapa kamu nggak pernah takut sama soal pecahan?” Murid: “Karena saya sudah terbiasa… hidup saya juga sudah terbagi-bagi antara tugas, utang
Piring Pecah
Ibu: “Kenapa piringnya pecah?” Anak: “Itu piringnya, Bu, nggak kuat menahan kenyataan.”
TERLAMBAT
Guru: “Kenapa kamu terlambat?” Murid: “Bangun kesiangan, Bu.” Guru: “Kenapa bisa kesiangan?” Murid: “Soalnya alarmnya kurang motivasi Bu.&rdquo
Hukum Kekekalan Energi
Guru: “Energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, hanya berubah bentuk.” Siswa: “Betul, Bu. Energi semangat belajar saya berubah jadi ngantuk.”
Cermin Datar
Guru: “Kalau kamu lihat cermin, bayangan kamu terlihat di mana?” Siswa: “Di masa lalu, Bu… karena saya dulu lebih kurus!”
